May
08

35 Persen Remaja Di 4 Kota Besar Lakukan Seks Sebelum Nikah

RMOL. 35,9 persen remaja di 4 kota besar (Medan, Jakarta Pusat, Bandung dan Surabaya telah melakukan hubungan seks pranikah. Hal itu terungkap pada data  yang dimiliki Kemenkes Republik Indonesia sejak tahun 2009.

“Seksualitas perilaku seksual yang tidak sehat di kalangan remaja khususnya remaja yang belum menikah memang cenderung meningkat,” kata Kepala Badan Koordinasi Keluarga Nasional (BKKBN) Dr dr Sugiri Syarief ketika  membuka pemilihan duta Mahasiswa Genre tingkat Nasional 2012 di Jakarta, Senin (7/5).

Sugiri menambahkan,  beberapa hasil penelitian  menunjukkan bahwa remaja perempuan dan remaja laki-laki usia 15-24 tahun yang menyatakan pernah melakukan hubungan seksual pranikah masing-masing 1 persen pada wanita dan 6 persen pada pria.

Dijelaskannya, masalah  menonjol dikalangan remaja yaitu permasalahan seputar TRIAD KRR (Seksualitas, HIV dan AIDS serta Napza), sebagai bakibat  rendahnya pengetahuan remaja tentang Kesehatan Reproduksi Remaja dan juga median usia kawin pertama perempuan relatif masih rendah yaitu 19,8 tahun (SDKI 2007), sehingga mereka mempunyai potensi menyumbang tingkat kelahiran yang tinggi.

Berdasarkan penelitian Australian National University (ANU) dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia tahun 2010 di Jakarta, Tangerang dan Bekasi (JATABEK) dengan jumlah sampel 3006 responden (usia <17 hingga 24 tahun), menunjukkan  20,9 persen remaja mengalami kehamilan dan kelahiran sebelum menikah dan 38.7 persen remaja mengalami kehamilan sebelum menikah dan kelahiran setelah menikah.

“Dari data tersebut terdapat proporsi relatif tinggi pada remaja melakukan pernikahan disebabkan  kehamilan yang tidak diinginkan,” terangnya.

Ditambahkannya, dalam rangka mengemban amanat undang-undang dan merespon permasalahan remaja, BKKBN mengembangkan Program Generasi Berencana (Genre) bagi Remaja/Mahasiswa dan keluarga yang memiliki remaja.

“Program GenRe tersebut dilaksanakan berkaitan dengan bidang kehidupan yang kelima dari transisi kehidupan remaja dimaksud, yakni mempraktikkan hidup secara sehat (practice healthy life),” kata Sugiri yang juga bekas Sekjen KPK. [arp]

Sumber: Rakyat Merdeka

Apr
19

Lirik Lagu Jorok Picu Remaja Lakukan Seks Lebih Dini

Jakarta, Lirik sebuah lagu dapat memengaruhi perasaan dan pikiran seseorang. Lagu dengan lirik seksual yang merendahkan perempuan juga dapat mempengaruhi perilaku seksual remaja. Remaja yang suka mendengarkan lagu dengan lirik ‘jorok’ ternyata lebih dini melakukan hubungan seks.

Sebuah penelitian menemukan bahwa remaja akan berhubungan seks lebih dini jika banyak mendengarkan lagu dengan lirik yang merendahkan perempuan secara seksual. Lirik merendahkan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah lirik yang menggambarkan laki-laki sebagai orang yang tak pernah merasa puas secara seksual dan perempuan dianggap sebagai obyek seks.

“Semakin sering remaja mendengarkan lagu dengan lirik yang merendahkan perempuan secara seksual, semakin besar kemungkinannya melakukan hubungan seksual dan aktivitas seksual lainnya. Pengaruh ini tetap ada meskipun 18 prediktor perilaku seksual lainnya ikut diperhitungkan,” kata peneliti, Steven C. Martino, PhD seperti dilansir WebMD, Kamis (19/4/2012).

Temuan dari para peneliti di organisasi nirlaba yang bernama RAND ini didasarkan pada wawancara telepon dengan 1.242 anak-anak yang berusia 12 – 17 tahun. Hasil penelitian ini dimuat dalam jurnal Pediatrics.

Setelah mendapatkan izin dari orang tua, pewawancara mengajukan pertanyaan rinci kepada remaja mengenai perilaku seksualnya. Wawancara dilakukan lagi 1 tahun dan 3 tahun berikutnya. Peneliti juga menanyai para remaja mengenai seberapa sering mendengarkan 16 album musik populer yang berbeda saat diwawancarai.

Setiap album musik dinilai kandungan lirik seksual dan lirik seksual yang merendahkan perempuan. Di antara 16 album tersebut, genre musik rap dan rap-rock paling banyak mengandung lirik yang merendahkan perempuan.

“Lirik yang dinilai merendahkan adalah lirik yang mengatakan seolah-olah laki-laki tak pernah terpuaskan secara seksual dan hanya mengejar perempuan sebagai objek seks,” kata Martino.

Para peneliti menjelaskan bahwa musik dengan lirik yang merendahkan tersebut memberikan remaja semacam ‘cara’ untuk berperilaku saat menghadapi situasi yang tidak tentu. Mendengarkan lirik tersebut secara berulang-ulang dan dari waktu ke waktu dapat menyebabkan remaja melakukan tindakan sesuai dengan apa yang didengarnya.

“Remaja perempuan yang berulang kali mendengar lirik ini beranggapan bahwa perempuan harus tunduk saat diminta berhubungan seks dan diperlakukan dengan tidak hormat oleh pacarnya. Sedangkan remaja laki-laki bisa jadi akan menafsirkan perilaku seksual yang sembrono sebagai perilaku yang ‘sangat laki-laki’ dan menganggap perasaan perempuan bukanlah hal yang penting,” kata Martino.

Para peneliti menyarankan kepada orangtua untuk selalu memantau dan menetapkan batasan lagu yang boleh didengarkan oleh para remaja. Peneliti juga mendorong orangtua untuk membahas tayangan yang memuat masalah seksual dengan anak-anaknya.

Sumber: Detik.com

Older posts «